Rumah Adat, Warisan Budaya Bangsa Yang Terlupakan

Negeri kita Indonesia memang sangat kaya sekali akan kebudayaan. Terdiri dari beribu2 pulau yang terpisah oleh laut menyebabkan Indonesia memiliki beraneka macam suku dengan kebudayaan dan kepercayaan yang sudah pasti berbeda-beda. Seluruh provinsi yang ada di Indonesia memiliki kebudayaan sendiri-sendiri. Salah satu kebudayaan yang sangat mencolok terdapat pada bentuk rumah adat mereka. Bentuk-bentuk rumah adat mereka memiliki nilai seni bangunan dan nilai estetika yang sangat tinggi. Rumah-rumah adat tersebut memiliki bentuk yang unik dan indah sehingga rumah-rumah adat tersebut merupakan warisan budaya bangsa yang patut dilestarikan.

Akan tetapi, seiring perkembangan zaman dan akibat kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia serta peristiwa penjajahan yang di alami Indonesia, rumah-rumah adat tersebut sudah hampir punah. Bahkan, di daerah-daerah asal rumah-rumah adat tersebut sudah jarang bahkan sama sekali tidak terlihat. Untunglah di Taman Mini Indonesia Indah, didirikan ajungan-ajungan setiap provinsi di Indonesia, sehingga kita bisa melihat bentuk-bentuk rumah adat yang dimiliki suku-suku yang mendiami provinsi-provinsi di Indonesia.

Hampir seluruh masyarakat Indonesia membangun rumah-rumah mereka dengan model desain seni bangunan luar negeri seperti amerika dan eropa. Jarang sekali yang menggunakan bentuk desain seni bangunan rumah adat. Padahal seni bangunan rumah adat yang dimiliki bangsa Indonesia tidak kalah bagusnya dengan desain seni bangunan eropa atau amerika. Selain itu, bentuk rumah adat seperti rumah panggung dapat menghindarkan kita dari bencana banjir, karena bentuknya yang seperti panggung itu. Selain itu, bentuk rumah seperti rumoh aceh juga dapat menghindarkan kita dari bencana tsunami karena bentuknya yang kokoh itu, serta bentuk rumah adat seperti rumah adat jambi dapat menghindarkan kita dari gempa bumi.

Memang begitulah sifat buruk yang nampak dari masyarakat kita sekarang ini. Kita sudah tidak lagi peduli dengan budaya kita sendiri. Tetapi, ketika negara lain mencuri kebudayaan kita, kita seperti kebakaran jenggot dan beramai-ramai mengecam tindakan mereka. Padahal, tanpa kita sadari, kitalah yang telah menyebabkan banyak kebudayaan kita mudah dicuri negara lain. Andaikan saja dari awal kita mau melestarikan kebudayaan bangsa dengan sungguh-sungguh, tentulah tidak akan terjadi kejadian semacam itu.

Kembali ke pembahasan mengenai rumah adat, rumah-rumah adat tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan kebudayaan suku-suku atau masyarakat pemiliknya. Sesuai dengan observasi yang saya lakukan di Taman Mini Indonesia Indah, sebagian rumah-rumah adat yang ada di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Rumah Adat Provinsi Riau

Rumah adat di provinsi Riau bernama Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar. Ruangan rumah ini terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur. ruangan bersila, anjungan dan dapur. Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai Adat yang dipergunakan untuk pertemuan dan musyawarah adat. Bentuk rumah tradisional daerah Riau pada umumnya adalah rumah panggung yang berdiri di atas tiang dengan bangunan persegi panjang. Draf beberapa bentuk rumah ini hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangannya sama saja, kecuali rumah lontik. Rumah lontik yang dapat juga disebut Rumah Lancang karena rumah ini bentuk atapnya melengkung ke atas dan agak runcing sedangkan dindingnya miring keluar dengan miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Hal ini melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan terhadap sesama. Rumah Lontik diperkirakan dapat pengaruh dari kebudayaan Minangkabau karena kabanyakan terdapat di daerah yang berbatasan dengan Sumatera Barat. Tangga rumah biasanya ganjil, bahkan Rumah Lontik beranak tangga lima, Hal ini ada kaitannya dengan ajaran Islam yakni rukun islam yang lima.

Tiang bentuknya bermacam-macam, ada yang persegi empat, segi enam, segi tujuh, segi delapan, dan segi sembilan. Segi empat melambangkan empat penjuru mata angin, sama dengan segi delapan. Maksudnya rumah itu akan mendatangkan rezeki dari segala penjuru. Tiang segi enam melambangkan Rukun Iman dalam ajaran Islam, maksudnya diharapkan pemilik rumah tetap taat dan beriman kepada Tuhannya. Tiang segi tujuh melambangkan tujuh tingkatan surga dan neraka. Kalau pemilik rumah baik dan soleh akan masuk ke salah satu tujuh tingkat surga, sebaliknya kalau jahat akan masuk salah satu tujuh tingkat neraka. Tiang persegi sembilan melambngkan bahwa pemilik rumah adalah orang mampu.

Tiang utama adalah tiang tuo, yang terletak pada pintu masuk sebelah kiri dan kanan, dan tiang ini tidak boleh disambung karena sebagai lambang rasa hormat kepada orang tua. Di daerah lain yakni pada suku Melayu di kepulauan, tiang yang dianggap penting adalah Tiang Seri yang terdapat di keempat sudut rumah. Baik Tiang Tuo maupun Tiang Seri tak boleh bersambung dan terbuat dari kayu yang besar.

2. Rumah Adat Provinsi Nanggro Aceh Darussalam

Rumah adat provinsi NAD disebut Rumoh Aceh. Bentuknya seragam, yakni persegi empat memanjang dari timur ke barat. Konon, letak yang memanjang itu dipilih untuk memudahkan penentuan arah kiblat. Dari segi ukir-ukiran, rumoh Aceh di tiap-tiap kabupaten di Provinsi NAD tidaklah sama. Masing-masing punya ragam ukiran yang berbeda. Tampilan luar rumah biasanya berwarna hitam pekat diselingi ornament berwarna cerah khas Aceh. Komponen rumoh aceh :

  • Seuramou-keu (serambi depan) , yakni ruangan yang berfungsi untuk menerima tamu laki-laki, dan terletak di bagian depan rumah. Ruangan ini juga sekaligus menjadi tempat tidur dan tempat makan tamu laki-laki.
  • Seuramou-likoot (serambi belakang), fungsi utama ruangan ini adalah untuk menerima tamu perempuan. Letaknya di bagian belakang rumah. Seperti serambi depan, serambi ini juga bisa sekaligus menjadi tempat tidur dan ruang makan tamu perempuan.
  • Rumoh-Inong (rumah induk), letak ruangan ini di antara serambi depan dan serambi belakang. Posisinya lebih tinggi dibanding kedua serambi tersebut. Rumah induk ini terbagi menjadi dua kamar. Keduanya dipisahkan gang atau disebut juga rambat yang menghubungkan serambi depan dan serambi belakang.
  • Rumoh-dapu (dapur), biasanya letak dapur berdekatan atau tersambung dengan serambi belakang. Lantai dapur sedikit lebih rendah dibanding lantai serambi belakang.
  • Seulasa (teras), teras rumah terletak di bagian paling depan. Teras menempel dengan serambi depan.
  • Kroong-padee (lumbung padi), berada terpisah dari bangunan utama, tapi masih berada di pekarangan rumah. Letaknya bisa di belakang, samping, atau bahkan di depan rumah.
  • Keupaleh (gerbang), sebenarnya ini tidak termasuk ciri umum karena yang menggunakan gerbang pada umumnya rumah orang kaya atau tokoh masyarakat. Gerbang itu terbuat dari kayu dan di atasnya dipayungi bilik.
  • Tamee (tiang), kekuatan tiang merupakan tumpuan utama rumah tradisional ini. Tiang berbentuk kayu bulat dengan diameter 20-35 cm setinggi 150-170 cm itu bisa berjumlah 16, 20, 24, atau 28 batang. Keberadaan tiang-tiang ini memudahkan proses pemindahan rumah tanpa harus membongkarnya.

Salah satu bagian yang juga penting pada rumoh Aceh adalah tangga. Biasanya, tangga rumah terletak di bawah rumah. Setiap orang harus menyundul pintu dengan kepala supaya terbuka dan bisa masuk.Jumlah anak tangganya, selalu ganjil. Satu lagi yang khas dari rumoh Aceh adalah bangunan tersebut dibuat tanpa paku.Untuk mengaitkan balok kayu yang satu dengan yang lain cukup digunakan pasak atau tali pengikat dari rotan atau ijuk.

3. Rumah Adat Provinsi Sumatra Barat

Rumah adat provinsi Sumatra Barat disebut Rumah Gadang. Rumah tersebut dapat dikenali dari tonjalan atapnya yang mencuat ke atas yang bermakna menjurus kepada Yang Maha Esa. Tonjolan itu di namakan gojong yang banyaknya 4-7 buah.
Rumah ini memiliki keunikan bentuk arsitektur yaitu dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau dibuat dari bahan ijuk. Dihalaman depan Rumah Gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjuang (anjung)  sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah Gadang dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjuang pada keselarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya, sedangkan untuk golongan kesalarasan Koto-Piliang memakai tongkat penyangga. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda, salah satu golongan menganut prinsip pemerintahan yang hirarkies menggunakan anjuang yang memakai tongkat penyangga, pada golongan lainnya anjuang seolah-olah mengapung di udara.

4. Rumah Adat Provinsi Sumatra Utara

Rumah adat Sumatra Utara disebut Jahu balon, sebuah rumah pertemuan keluarga besar. Berbentuk pangung dan ruang atas untuk tempat tinggal. Pada ruang ini tak ada kamar-kamar dan biasanya 8 keluarga tinggal bersama-sama. Tempat tidur lebih tinggi dari dapur.

5. Rumah Adat Provinsi Lampung

Rumah adat di Lampung ialah Rumah Sesat, yang digunakan untuk musyawarah tertinggi antara marga-marga. Jambal Agung atau Lorong Agung adalah nama tangga menuju Rumah Sesat.

6. Rumah Adat Provinsi Jambi

Rumah adat Jambi dinamakan Rumah Panggung dengan model kajang lako, merupakan rumah tinggai yang terbagi dalam 8 ruangan. Ruang Jogan, Serambi depan, Serambi dalam. kamar Amben melintang, Serambi belakang, ruang Laren, ruang Garang. Rumah ini berdiri di atas 16 tiang peyangga segi delapan, dengan tinggi 2,5 meter dan luas 12 kali 18 meter persegi. Uniknya, sambungan antara tiang dengan tiang lain tidak memakai paku, tapi dengan sistim pasak. Keuntungan pasak ini, meredam getaran gempa. Pondasi rumah ini dirancang mampu meredam getaran gempa, setiap tiang rumah diberi bantalan kayu , sebagai peyangga kalau terjadi pergeseran akibat gempa bumi.

7. Rumah Adat Provinsi Kalimantan Barat

Model rumah adat kalimantan Barat yang berbentuk panggung. Bagian kolongnya tidak di pergunakan, karena tanahnya berawa-rawa. Pada kiri kanan rumah terdapat kamar-kamar dan di tengahnya merupakan ruang upacara dan pertemuan. Bangunan tersebut terbuat dari kayu dan atapnya dari sirap. Di Kalimantan Barat terdapat juga Rumah Baluk. Baluk merupakan rumah adat suku dayak Bidayuh yang sangat berbeda bentuknya dari rumah adat suku-suku dayak lainnya khususnya yang berada di Kalimantan Barat dan umumya suku-suku dayak yang berada di Pulau Kalimantan.

Berbentuk bundar, berdiameter kurang lebih 10 meter dengan ketinggian kurang lebih 12 meter dan disanggah sekitar 20 tiang kayu dan beberapa kayu penopang lainnya serta sebatang tiang digunakan sebagai tangga yang menyerupai titian. Ketinggian ini menggambarkan kedudukan atau tempat Kamang Triyuh yang harus dihormati.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: